Sabtu, 18 Oktober 2008

Survival Kit dalam Perspektif


Aku pergi dari keramahtamahan yang sedingin es karena lebih menyukai kebenaran.


Kondisi survival merupakan situasi paling dihindari saat di alam liar. Berarti ada sesuatu yang salah terjadi bila kita terpaksa menghadapinya. Bila malapetaka itu terjadi, kita benar-benar mengandalkan belas kasihan alam untuk tetap hidup. Terlalu banyak teori bertahan hidup di alam yang dapat dipelajari, namun bila situasi sebenarnya terjadi berdoalah agar alam tetap ramah.

Maka para petualang selalu melengkapi dirinya dengan perbekalan dan pengetahuan yang cukup supaya kondisi survival tak terjadi. Walau hanya dalam latihan, saya tak minat bila harus kembali berbekal survival kit di alam liar. Survival kit biasanya tak kurang dari peta, kompas, pisau, korek api, senter, air dan obat-obatan luar. Hanya dengan beberapa alat sederhana itulah seseorang harus bertahan hidup berhari-hari di hutan.

Namun itu tentunya kondisi jadul saat kita masih menggeluti petualangan di gunung hutan. Kini dengan perlengkapan seperti itu, seseorang tak akan bertahan hidup lebih dari dua hari di kota, kecuali melanjutkannya dengan mengemis atau menggunakan pisaunya untuk menodong.

Lalu apakah survival kit yang dibutuhkan homo metropolis kini? Makin lama ternyata semakin tak masuk akal dan semakin jauh dari kebutuhan fisiologisnya. Mungkin Maslow si pecipta piramida kebutuhan pun akan bangun dari kuburnya melihat hirarki kebutuhan manusia kota kini. Cobalah iseng melakukan survey pada orang-orang sekeliling anda. Barangkali beberapa orang -supaya kelihatan profesional- dengan cepat akan menyebutkan beberapa gadget seperti laptop, flashdisk, iPod atau hand-set. Yang lain pun akan terlihat tak tergoyahkan ketika mengucapkan handphone, Playstation, hotspot, dan DVD Player.

Sebagian lagi merasa menjadi orang paling tolol di dunia bila tak menjumpai koran, situs online atau media gosip. Beberapa masih ingat pada ususnya, namun hanya dapat mengingat Mc Donalds, Pepsi dan fried chicken. Lalu maafkan kekasaran bahasa saya, tapi beberapa orang akan memasukkan kondom dan pil KB kedalam daftar survival kit-nya. Beberapa mencoba lebih bijak dengan menyebut listrik 900 watt, kartu ATM, dan bensin premium.

Entah apakah berbagai survival kit itu akan menyelamatkan hidupnya saat banjir besar melanda Jakarta dan menenggelamkan kota. Dalam keadaan kelaparan dan haus, apakah anda mau menukar Nokia Communicator E90 milik anda dengan sekardus mie intan dan Aqua. Bilapun anda rela menukarnya, apakah orang lain mau menukar Indomie dan Aqua nya dengan ponsel glamor yang tak berguna itu.

Sejenak saya tercenung, begitu rentan kah hidup manusia kini. Semakin modern kehidupan ternyata tak menjadikan manusia semakin kuat, justru sebaliknya semakin lemah. Kemanjaan semakin menjadi-jadi dan mengherankan. Ada yang merasa tak dapat lagi berolahraga saat kartu member fitness atau golfcard-nya telah expired, dan ada yang merasa terkurung tak dapat kemana-mana ketika sedan limo-nya mogok.

Entah saya ada dimana ketika dunia metropolis ini menggelinding dengan derasnya. Namun bila harus terperangkap dalam kondisi survival kota yang “paling menyedihkan” itu, saya akan selalu terngiang ketika dulu coba berkelit dari keganasan gunung hutan. Dalam remang api yang semakin mengecil, hanya ada air mentah dan beberapa makanan untuk dikunyah. Antara lain honje, batang pohon pisang, suplir-supliran dan sekantong serangga. Berhasil menangkap ikan atau reptil yang montok adalah sebuah kemewahan bagi kala itu. Sebaiknya semua segera dilahap agar tubuh tak menjadi lemas.

Tak adakah yang perlu disisakan untuk hari-hari survival berikutnya? Benar sekali, hari survival berikutnya selalu saya hadapi tanpa rasa khawatir. Bukan karena falsafah “bagaimana besok saja tapi karena ada yang jauh lebih berharga dari itu semua. Ya, saya akan merasa kuat menghadapi sesukar apapun dunia esok hari dengan seorang teman di samping. Hmm...seorang teman, setidaknya itulah yang paling saya butuhkan dalam survival dimanapun .

Ketika KTP Habis Masa Berlaku

I’d rather woke up in the middle of no where than any cities in the world



Tangal 26 Juni 2007. Anjirrr...masa berlaku KTP saya hangus tepat di tanggal ini. Demikian pula berbagai identitas untuk hidup di kota ini seperti SIM, kartu kredit, user id dan sebagainya. Tiba-tiba saja saya tersadar bahwa telah sekian lama tinggal di sebuah tepi megapolitan yang berpenduduk lebih dari 10 juta orang. Sebuah kota yang serba maha dan menjadi magnet bahkan semacam lubang hitam bagi negara ini. Ia menyerap semua energi dan cahaya negara ini lalu enggan melepaskannya kembali. Maka yang terjadi adalah sebuah hiruk pikuk dengan kecepatan yang semakin berlipat. Di kota ini, bahkan sehari pun tak lagi cukup 24 jam.

Semua berlomba-lomba menjadi bagian dari megapolitan ini, tapi mungkin karena terpaksa. Karena ketika hari libur tiba, para penghuninya segera beterbangan seperti tawon yang berduyun-duyun meninggalkan sarangnya. Apalagi bila libur Lebaran tiba, tampak lah jelas loyalitas warga megapolitan ini terhadap kotanya. Bahkan seekor semut pun akan leluasa melintasi jalan-jalan protokolnya tanpa khawatir terlindas para raja jalanan biadab yang biasa menguasainya.

Saat itu kemegahan megapolitan ini seperti tubuh yang kosong. Ruhnya terbang meninggalkan raga, kendati ia tetap tegak dan sombong tentu saja. Namun berdiri dengan gamang dan limbung. Para penghuninya melarikan diri ke tempat yang lebih teduh dan berjiwa. Untuk sekian lama, mereka merasa lega dapat keluar dari kemabukan megapolitan itu. Jadi ini adalah sebuah kota yang suatu hari pasti ditinggalkan para penghuninya. Dan saat mereka kembali, sebagian besar dari mereka berkata “ Bukan, kami bukan pulang kembali ke sini.... kami pergi dari kota dan desa tempat asal kami.”

Tapi kenapa saya harus begitu sinis pada kota ini, pikir saya. Toh, tempat asal saya pun telah tumbuh menjadi kota besar yang mulai tak ramah. Pohon-pohonnya telah banyak ditebang dan kini kabut pun mulai menyingkir dari kesejukan pagi. Ah, tapi di sana saya masih mendapati senyum dan kesopanan, saya mencoba membela diri. Dan di sana saya pun masih berjumpa dengan teman –teman dalam arti yang sebenarnya. Bukan teman kerja, teman profesi, teman perjalanan atau teman kencan. Mereka teman tanpa konteks maupun kosmetik. Saya bisa bergaul dengan mereka bahkan dengan hanya memakai kolor sekalipun. Demikian pula dengan keluarga yang menerima apa adanya. Hmm, jadi setidaknya masih ada passion yang menyegarkan.

Lho, bagaimana bila semua teman dan keluarga saya dipindahkan ke megapolitan ini? Apakah lalu akan menjadi betah juga di sana, saya mencoba mengkritisi pandangan ini. Tak perlu khawatir, balas pikiran saya yang lain dengan enteng. Toh bukan itu yang terjadi, jadi tenang saja. Buat apa mikiran yang tidak terjadi. Gitu aja kok repot..

Jadi, kalau begitu kenapa saya harus datang ke biang hiruk pikuk ini? Begitulah, saya ternyata masih memiliki ketergantungan besar kepada sistem ekonomi kapital ini. Keliru benar kalau ada yang membela ekonomi negara ini sebagai tak mengadopsi ekonomi kapitalistik. Para marhaen lugu itu datang dari pelosok desa bukan karena melihat ada harapan di kota besar. Tapi mereka lari dari keputusasaan di tempat asalnya. Mereka sekedar lari, betapa menyakitkan.

Entah kenapa saya tak terlampau berminat menjadi bagian yang berkesinambungan dari gelinjang megapolitan ini. Saya teringat saat dulu menyusuri jeram-jeram sungai di pinggir hutan. Selain arus utama yang bertenaga, di pinggir-pinggirnya ada juga arus balik (eddies). Arus ini berguna untuk membantu menghentikan laju perahu saat berada di keliaran arus utama. Setidaknya itulah yang saya coba lakukan, dan mungkin juga sebagian yang lain yang tak ingin terlelap pada aroma metropolis ini.

Maka sewaktu-waktu saya pun tetap pergi ke suatu ketinggian, atau keliaran sungai, atau suatu tempat yang sunyi bersama teman-teman yang saya sebut tadi. Bisa menerima saya walau hanya berkolor sekalipun. Di tempat-tempat eddies itulah, tubuh yang letih itu mendapatkan kembali semangatya untuk tetap tak ingin kalah pada keliaran jeram megapolitan. Tapi kini, yang harus segera saya lakukan adalah memperpanjang KTP ini, setidaknya mencari calo kelurahan yang bisa mengurusnya. Bloody hell...

Barat dan Timur Milik Tuhan


Tetapi kadang aku bertanya-tanya tidakkah melakukan perjalanan panjang ini hanya untuk menyadari bahwa yang kucari sebenarnya adalah sesuatu yang kutinggalkan di belakang (Thomas F. Hornbein)



Menjelajahi blank spot

Tak ada yang dapat menghalangi para petualang untuk sampai ke tempat tujuannya. Imajinasi telah membebaskan mereka dari belenggu kebudayaan materi masyarakat urban. Imajinasi untuk bebas dan menemukan keindahan telah mendorong para petualang pergi ke berbagai belahan bumi -dari ujung Barat hingga ke ujung Timur- untuk menjelajahi berbagai blank spot yang belum terpetakan, seakan tak mempedulikan lagi bahaya yang mengintai. Keinginan untuk memberi makna lebih pada hidup telah memberikan daya jelajah ekstra kepada para pemilik jiwa yang resah itu.

Maka tak ada medan yang terlampau ekstrim, tak ada udara yang terlalu tipis dan tak ada kesulitan yang tak terpecahkan bagi petualang dalam melakukan penjelajahan mereka. Bentangan alam dari Barat hingga ke Timur merupakan guru mereka. Ia bagaikan begawan yang mengasuh murid-muridnya dengan arif, ia tahu kapan bersikap tegas dan kapan pula bersikap penuh kelembutan. Hanya kepada insan yang paling dicintainya ia mengajari mereka dengan keras agar mendapat hikmah yang tak akan lekang

Maka temuilah puncak-puncak yang menunggu kedatanganmu, wahai para petualang. Seluruh mata penjuru angin dengan penuh harap dapat menuntunmu menjelajah dunia luas. Ambillah hikmah dari perjalanan dan sebarkan ilmu serta kearifan itu kepada mereka yang menantimu pulang. Saat tekadmu telah bulat maka hanya puncak-puncak gunung yang membuat hidup bernilai. Maka saat itu tak ada lagi rasa takut.

Berbagi ilmu

Arus informasi yang semakin deras bukannya tak memberi pengaruh positif pada dunia petualangan. Namun terlalu sering kita berharap mendapatkan semua informasi petualangan yang diinginkan, dan enggan membagi pengetahuan berharga yang dimiliki. Entah mengapa, bagi sebagian orang menutup rapat-rapat ilmunya seakan kenyamanan tersendiri. Banyak para petualang yang telah makan asam garam dunia outdoor enggan membagi ilmu kepada para pemula. Para pendekar kawakan itu seperti dilanda phobia bahwa suatu saat para pemula akan melampauinya, sehingga kalau pun berbagi ilmu amatlah terbatas. Diam-diam mereka masih menyimpan ilmu simpanan sebagai senjata pamungkas bila kelak para junior mulai menyamainya.

Dengan cara berpikir seperti itu tak heran bila pada perkembangannya masing-masing komunitas penggiat outdoor sering menjaga ilmunya rapat-rapat dan hanya diperuntukkan bagi kalangan sendiri. Bahkan setiap publikasi informasi seperti catatan, diktat maupun buku diembel-embeli stempel “RAHASIA”. Sebagian komunitas pecinta alam juga sampai kini juga masih menerapkan pola perekrutan anggota yang ribet. Sesuatu yang sebenarnya dapat dipermudah didesain menjadi sulit, dogmatis dan terkadang membahayakan. Mereka seperti tak rela membagikan ilmunya begitu saja tanpa membuatnya menjadi sulit. Padahal penerimaan anggota baru merupakan proses estafet informasi kepada masyarakat. Paradigma berpikir seperti itu tentulah sedikit banyak menghambat perkembangan dunia petualangan di negeri ini

Padahal alam tak pernah pelit membagi ilmunya. Setiap buih arus sungai, derak pepohonan, horison yang luas dan aroma hutan menawarkan semua informasi yang diperlukan tiap petualang. Menuju ke arah Barat maupun Timur petualang melakukan pengembaraannya, alam selalu melimpahkan pengetahuan kepada mereka. Tuhanlah yang menghendaki ciptaan-Nya untuk selalu menumpahkan ilmu kepada manusia. Namun merupakan pilihan mereka sendiri untuk memahami atau membiarkannya lewat begitu saja.

Open source

Awal tahun 90-an merupakan masa dimana para starter rafting di kampus mulai serius mengembangkan olahraga arung jeram. Didorong oleh keinginan yang besar untuk mempopulerkan olahraga ini, para penggiat oudoor di kampus membuka kesempatan para mahasiswa di kampus untuk secara bebas ikut berarung jeram. Berpuluh-puluh mahasiswa diajak ke Citarum dan diperkenalkan pada olahraga ini tanpa embel-embel keterikatan apalagi komersial. Sejak saat itu makin sering latihan-latihan rafting di Citarum maupun sungai lainnya yang terbuka bagi mahasiswa maupun orang luar. Pada tahun 1994 genre rafting pertama ini juga berinisiatif menyelenggarakan Sekolah Arung Jeram se-kota Bandung yang diperuntukkan kepada masyarakat luas.

Di awal tahun 90-an, saat akses ke olahraga arung jeram masih sangat terbatas, tanpa disadari mereka telah mencoba melampui cara berpikir masa itu. Walau saat ini tentu saja hal tersebut bukan merupakan hal yang luar biasa karena berbagai akses ke dunia outdoor telah semakin mudah dan luas. Namun yang saya rindukan adalah spirit idealisme yang inklusif, tanpa pamrih dan semata-mata berangkat dari keinginan memberi sumbangan pada dunia outdoor yang dicintai.

Outdoor activity kini bak open source yang bisa diakses oleh siapa saja, dari balita sampai lansia. Bicara rafting kini tidak lagi tentang heroisme Citarum Rally atau tragedi sungai Van der Wall namun juga bagaimana para turis kota yang tak pernah melihat kerbau di sawah dengan riang meliuk-liuk di jeram dimanjakan tangan-tangan handal operator rafting. Bicara pendakian gunung kini tidak lagi sebagai pembukaan jalur yang heroik di Leuseur atau hilangnya pendaki di Argopuro, namun juga ketika sebuah sekolah dasar membimbing para anak didiknya ke puncak Gunung Gede. Artinya bahwa konsep outdoor activity sudah banyak bergeser dari saat para pionir dulu merintisnya.

Syukurlah bahwa kini informasi semakin mudah diakses dan para penggiat outdoor pun telah semakin dewasa cara berpikirnya. Pada masa kini setiap perhimpunan harus dapat bertransformasi menjadi organisasi inklusif yang tak perlu risau dan phobia dengan menjamurnya aktivitas serupa di lingkungannya. Ilmu yang diwariskan alam kepada kita bukanlah milik kita melainkan harus dapat bermanfaat juga bagi orang lain.

Dari Cimanuk Mengalir Sampai Jauh


Berapakalipun mengarungi sungai, aliran nya tak pernah sama.


Sungai Cimanuk membentang dari mulai Kabupaten Garut, Sumedang, Majalengka, hingga Indramayu. Daerah Aliran Sungai (DAS) nya memiliki luas hingga 631.796 hektare. Aliran sungai ini memiliki nilai historis dan sangat menentukan hajat hidup masyarakat di empat kabupaten yang dilaluinya. Bahkan bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa sungai Cimanuk telah dimanfaatkan sejak jaman kerajaan Pajajaran.

Nasib sungai Cimanuk kini tak lebih baik dari sungai Citarum. Masyarakat di daerah hilir mulai mengeluhkan kondisi sungai yang semakin memburuk. Luas lahan kritis di sekitar DAS Cimanuk mencapai 169.635 hektare. Kondisi ini tak lepas dari terjadinya degradasi lahan di kawasan hulu. Berbagai bentuk kerusakan hutan akibat perambahan dan penjarahan hutan di Kabupaten Garut merupakan penyebab utamanya.

Way of life

Dulu sekali para senior memperkenalkan saya kepada olahraga arung jeram dengan cara yang anggun. Pertama kali saya mengenal aliran sungai Cimanuk adalah dengan bermalam di tepi alirannya untuk menyaksikan kehidupan masyarakat di tepi sungai. Pada pagi hari, seperti biasa para pemecah batu melakukan pekerjaan sehari-harinya dengan mengumpulkan batu-batu sungai dari tepian Cimanuk lalu memecah-mecahkannya.

Beberapa perbincangan dengan masyarakat di sekitar aliran sungai merupakan kegiatan selanjutnya. Dari situlah saya mencoba memahami arti sungai bagi mereka. Bahwa sungai bukanlah sekedar aliran air, namun sebuah way of life bagi masyarakat sekitarnya. Karena itulah mereka menaruh rasa hormat yang besar pada alirannya.

Jeram-jeram Cimanuk

Setelah sungai Citarum dibendung, praktis tempat yang terbilang masih layak untuk latihan rafting di sungai itu hanyalah aliran sepanjang satu kilometer di daerah yang dikenal para dengan nama Bantar Caringin di desa Cisameang. Itu pun terbilang tidak membahayakan dan lebih cocok bagi pemula. Maka kebanyakan rafter di Bandung biasanya belajar arung jeram untuk pertama kalinya di Bantar Caringin, sungai Citarum. Disanalah mereka mulai mengenal karakter sungai dan kebesaran nama Citarum. Namun saya yakin di sepanjang jeram-jeram sungai Cimanuk lah mereka belajar lebih tentang keteguhan dan keberanian.

Para rafter akan selalu terpukau pada keliaran arus sungai Cimanuk yang membawa perahu meliuk-liuk di jeram dengan tingkat kesulitan grade 3 - 4 itu. Arus sungai Cimanuk yang liar akan memaksa rafter paling handal sekalipun berkonsentrasi mengerahkan segala kemampuan terbaik untuk bermanuver diantara jeram-jeramnya. Rute tradisional mengarungi sungai Cimanuk biasanya dibagi dua yaitu antara etape I dan etape II. Pembagian rute dimulai dari Jager hingga Leuwigoong untuk etape I, sementara etape II dimulai dari rute Leuwigoong hingga Sasakbeusi.

Tak siapapun yang dapat mengalahkan keliaran arus sungai Cimanuk, kita hanya berkelit diantara otot-otot kekuatannya. Bagaimanapun juga arus sungai merupakan aliran energi alam yang tak terukur kekuatannya. Manusia tak pernah benar-benar tahu sampai dimana batas kekuatannya.

Belajar tentang keberanian

Hidup berdampingan dengan sungai-sungai yang perkasa membutuhkan keberanian luar biasa. Kita hanya sesekali saja turun ke sungai dan mengarungi keliaran arusnya. Setelah satu dua hari bercengkerama dengan jeram, kita kembali ke peradaban kota yang nyaman. Berbeda sekali dengan masyarakat di bantaran sungai. Setiap hari mereka mempertahankan hidupnya berdampingan dengan sebuah aliran energi maha yang tak terukur kekuatannya. Apabila luapan sungai Ciliwung saja dapat menenggelamkan kota Jakarta, bayangkan seandainya sungai Citarum atau Cimanuk mengamuk dan bertiwikrama. Barangkali pulau Jawa pun akan tenggelam karenanya.

Militansi para rafter mengarungi jeram dengan tingkat kesulitan berapapun, tetap tak sebanding dengan keberanian mereka yang hidup dengannya. Kita turun dengan peralatan safety seperti tali, pelampung, helm dan perahu self bailing, bahkan mungkin diback-up pula sebuah tim rescue. Sementara seorang anak kecil menghanyutkan dirinya ke sungai dengan berbekal segebog batang pohon pisang saja.

Maka terkadang saya berpikir barangkali bukan dari keganasan sungai kita belajar tentang keberanian dan kegigihan. Demikian pula sikap kepasrahan untuk menyerahkan diri kepada aliran sungai yang perkasa itu. Namun dari orang-orang yang hidup dipinggir sungai Cimanuk lah keberanian itu dipelajari. Dan keberanian itu kini selalu mengalir dan bergelora dalam darah para rafter. Ia mengalir sampai jauh hingga ke gunung-gunung tinggi dan tanah bencana. Hanya Tuhan yang dapat memberinya batas.

Old Soldier Never Dies


Perasaan terkuat tentang keberadaan saya miliki ketika, melalui hambatan dan pengerahan tenaga yang paling ekstrem, saya mencapai batas-batas kemungkinan manusia, dan berusaha mendorong batasan ini terus melebar – Reinhold Messner

Bagi yang kerap jenuh dengan rutinitas dan keseharian yang datar tanpa gejolak, dinamika dunia petualangan dipastikan membuat jiwanya berdesir. Pendakian gunung, misalnya, membuat diri seseorang sangat terfokus. Bahaya yang mengintai dan beratnya medan membuat sistem kewaspadaan tubuh terjaga dan membuat pikiran jernih. Tak seperti dalam kehidupan rutin sehari-hari yang biasa mengabaikan kesalahan-kesalahan kecil yang bisa dimaafkan, di alam liar terutama dalam suatu pendakian gunung setiap kesalahan kecil dapat membawa resiko maksimal.

Mengasah indera

Tak keliru bila majalah Forbes memasukkan pendakian gunung ke dalam salah satu olahraga paling berbahaya di muka bumi, setara dengan suatu pertarungan hidup mati dengan seekor banteng! Oleh karenanya sebuah olahraga pendakian gunung menuntut konsentrasi yang tinggi dimana semua indera manusia berupaya digunakan oleh tubuh seoptimal mungkin. Tak heran bila indera menjadi terasah dan tajam sehingga bila dilatih secara teratur akan menjelma menjadi senjata yang mematikan.

Bagi mereka yang pernah berdiri di puncak tertinggi, pasti merasakan suatu sensasi menggetarkan saat menyaksikan salah satu pemandangan paling menakjubkan seumur hidupnya. Semua rasa lelah dan penderitaan dalam menempuh perjalanan berat penuh bahaya seolah tiada berarti. Sensasi untuk berdiri di puncak paling tinggi merupakan sebuah pencapaian tersendiri yang tak terungkapkan. Para peminat awal pendakian gunung akan segera terkesiap menangkap pesona yang mistis dan membius dari olahraga ini. Atmosfer magis pendakian gunung akan membawa mereka kembali melakukan pendakian gunung selanjutnya.

Jiwa muda

Banyak yang mulai mengenal olahraga mendaki gunung pada usia belia ketika masih duduk di bangku sekolah namun ada pula yang memulainya setelah memasuki usia pensiun. Keuntungan melakukannya di usia muda adalah melimpahnya energi di dalam tubuh dan semangat bergelora yang siap menantang bahaya. Tak heran medan pendakian nusantara didominasi oleh para pendaki muda penuh semangat yang menjanjikan. Tak ada yang lebih menggembirakan daripada menyaksikan para usia muda dengan wajah yang polos sumringah dalam melakukan pendakian. Tak diragukan lagi mereka akan menemukan sebuah hikmah dari pendakiannya.

Energi yang meluap-luap kerap membuat seorang pemuda merasakan gelisah dalam menyalurkannya. Usia muda memberikan energi yang menggelora dalam jiwa seseorang. Leo Tolstoy menulis, “..Aku merasakan dalam diriku tumpukan energi sangat besar yang tidak menemukan penyaluran di dalam kehidupan kita yang tenang.”

Bagi yang mengenal dunia mendaki gunung sejak bangku sekolah atau bangku kuliah, kegiatan ini sungguh tak tergantikan. Biasanya mereka menggabungkan diri dengan para peminat olahraga mendaki lainnya. Jalinan pertemanan yang mengesankan turut memberi sensasi tersendiri olahraga ini.

Berat berpisah

Namun setelah bertahun-tahun menekuni olahraga mendaki gunung dengan segala romantisme dan eksotikanya, tiba-tiba saja seorang mahasiswa menemukan dirinya dalam pilihan yang sulit antara memasuki dunia kerja dengan segala rutinitasnya dan hobinya bertualang. Saat masih kuliah dan belum bekerja ia bisa lepas menyalurkan minatnya mendaki namun amat sulit dirasakan setelah memasuki alam dewasa dengan segala pertanggungjawabannya.

Sungguh berat berpisah dengan sebuah hobi yang telah membentuk karakter selama bertahun-tahun. Kadang tak disadari oleh seorang pendaki, seperti ditulis Krakauer, bahwa mendaki gunung telah mencengkeram jiwa, bahwa tanpa mendaki gunung kehidupan seakan-akan tanpa kemudi dan mereka yang tiba-tiba menghentikan hobinya tidak mengantisipasi kekosongan yang akan dirasakan tanpa mendaki. Menghentikannya secara total seperti mengambil sebagian dari gairah jiwa, perlahan-lahan tapi pasti menurunkan motivasi hidup dan menciptakan kerinduan yang memberontak dalam alam bawah sadar.

Olahraga segala usia

Namun apabila kita menengok pendakian gunung-gunung di luar negeri atau gunung-gunung di nusantara yang telah menjadi tujuan wisata internasional seperti Kinabalu, Semeru atau Rinjani maka kita selalu dapat bertemu dengan para pendaki dari berbagai segmen dan usia. Mulai dari anak sekolah usia belia sampai yang memasuki usia senja. Bahkan seorang pendaki Jepang, Takao Arayama, menciptakan rekor dunia sebagai pendaki tertua yang mencapai puncak Everest pada usia 70 tahun.

Tampaknya beranjaknya usia ke alam dewasa bukanlah suatu masalah yang tak terpecahkan. Bahkan dengan meningkatnya kematangan dan kemapanan maka anda dapat lebih leluasa menuntaskan obsesi petualangan yang belum terlaksana. Anda akan tetap dapat berpikir seperti suatu saat di masa lampau seperti yang diungkapkan dengan masygul oleh Hornbein “..kadang aku bertanya-tanya tidakkah aku melakukan perjalanan panjang ini hanya untuk menyadari bahwa yang kucari sebenarnya adalah sesuatu yang kutinggalkan di belakang”.

Perjalanan Menyibak kabut

“..mereka takkan paham, ini soal rekan disamping kita”

(Film Black Hawk Down )


Bulan Maret 1995 barangkali bukan saat yang tepat menikmati keindahan pemandangan di puncak gunung Kerinci (3.805 meter dpl). Pada waktu itu kabut yang bergumpal-gumpal meliputi gunung Kerinci dan cuaca berhujan belum reda di kawasan ini. Kami memanfaatkan sisa hari libur yang sempit setelah Lebaran untuk menggapai pencakar langit pulau Sumatera ini.

Karena cuaca yang selalu basah, tak banyak pandangan dapat dilayangkan selama perjalanan. Jurang di sisi kiri jalur pendakian tak luput diselimuti kabut yang enggan menyingkir. Maka tak banyak yang dapat disaksikan saat itu di puncak Kerinci, selain triangulasi yang menandakan kita sudah berdiri di atap pulau Sumatera. Angin yang kerap bergemuruh di sisi-sisi jurang tak memberi banyak waktu di puncak sehingga tim segera turun menghindari cuaca pagi yang lebih ekstrim.

Taman Nasional Kerinci Seblat

Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang memiliki luas sekitar 1,4 juta hektar terletak dalam beberapa propinsi, yaitu Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Di kawasan ini terdapat bunga Rafflesia arnoldi yang merupakan bunga terbesar di dunia. Di sekitar gunung Kerinci juga masih kental cerita misteri tentang “orang pendek”, yang ditengarai memiliki tinggi tak sampai 1 meter dengan bulu lebat.

Jalur pendakian gunung Kerinci terletak di desa Kersik Tuo, sekitar 50 kilometer sebelah Utara dari Sungai Penuh, Jambi. Di desa sudah terdapat penginapan-penginapan yang cukup nyaman dan terjangkau bagi para wisatawan maupun pendaki untuk beristirahat menikmati suasana pegunungan. Di kawasan ini terdapat perkebunan teh Kayu Aro yang luas dan disebut-sebut sebagai salah satu penghasil jenis teh terbaik di dunia.

Rekan perjalanan

Seringnya perjalanan yang dilakukan menjadikan kita lebih saling memahami dengan rekan seiring. Terkadang hanya dengan anggukan dan lirikan singkat saja, kita menyepakati manuver yang akan diambil di jeram. Beberapa patah kata singkat seringkali merupakan bahasa yang panjang dan menentramkan. Bahkan kerap dengan body language saja kita memahfumi apa yang dimaksud rekan seiring.

Diam pun merupakan sebuah misteri bahasa yang indah dimana ketiadaan suara bukan berarti berhenti dari bercakap-cakap. Terkadang keheningan yang terjadi antar dua individu merupakan bahasa terdalam karena mereka berinteraksi dengan caranya sendiri. Puncak dari semuanya adalah tawa-tawa hangat sepanjang perjalanan atau kala berdiang di api unggun saat mengusir dingin yang menusuk di malam hari.

Api unggun bagai jiwa tim itu sendiri. Saat organisasi phisik dan psikis secara alamiah mengembalikan keseimbangannya. Terjadi loncatan-loncatan energi antar individu yang membuat sinergi aura sebuah tim. Dan jembatan pertalian itu adalah tawa – tawa ceria yang muncul saat api unggun mendekap dengan hangatnya, dikelilingi suara-suara alam yang mengawang.

Menyibak kabut

Entah sudah berapa puluh kali kita melakukan perjalanan dengan rekan yang sama. Sebanyak itu pula semua saling mendukung dan mempercayakan sebagian hidup pada para kolega terbaiknya itu. Namun bahkan dengan partner perjalanan terdekat sekalipun tetap saja ada kabut tebal yang tak dapat disibakkan. Tak pernah mungkin untuk mengetahui apa yang ada di hati rekan terdekat –bahkan sekedar menafsirkannya. Seperti sebuah puncak yang tak pernah terlihat karena diliputi awan dan kabut tebal yang bergumpal-gumpal sejak dari kaki gunungnya. Yang dapat dilakukan hanyalah memahami karakter teman seiring dan menghargai setiap irama langkahnya seperti menghargai diri sendiri. Betapa pun dalam perbedaannya.

Saya menduga-duga barangkali itulah sebenarnya salah satu arti dari perjalanan kita yang sesungguhnya. Sedikit demi sedikit selalu meraba-raba mencari jalan yang benar, di tengah pekatnya kabut yang menghadang. Tetap melangkah ke depan walau tahu bahwa kita takkan pernah mencapai tujuan dan entah apa sebetulnya yang ada disana. Itulah teka-teki kehidupan terbesar setiap orang. Sebuah perjalanan menyibak kabut.

You Are Alone



Menyerah..? Untuk Apa?

Pegunungan tinggi kerap bukanlah arena petualangan yang nyaman. Bahaya selalu mengintai mereka yang lengah dan under estimate terhadap kekuatan monster alam ini. Cuaca buruk dan beratnya medan membuat setiap kesalahan kecil saja dapat membawa resiko maksimal. Dapat dimengerti bila majalah Forbes memasukkan pendakian gunung ke dalam salah satu olahraga paling berbahaya di muka bumi, setara dengan suatu pertarungan hidup mati dengan seekor banteng.

Bahaya yang mengintai tidak hanya berupa objective danger namun juga subjective danger. Siapapun berpeluang melakukan kesalahan bila berada dalam kondisi ekstrem di pegunungan tinggi. Membawa carrier dalam kondisi keletihan luar biasa, meniti bebatuan yang rapuh dan tajam serta tak terlindung dari angin kencang dan suhu beku. Di saat seperti itu hanya upaya sendirilah yang membawa pendaki tetap ke puncak. Solidaritas merupakan hal yang baik di dalam tim namun upaya diri sendiri untuk berjuang sangat dijunjung tinggi.

Di saat itu Tuhan telah menyerahkan takdir kepada kita sendiri untuk bertahan atau tidak. Upaya sendirilah yang paling menentukan hidup atau mati kita dalam situasi demikian. Setiap orang dituntut berjuang sendiri sampai denyut nadinya yang terakhir.

Pertarungan antara kekuatan manusia dengan alam, itulah yang sedang terjadi saat itu. Tak ada yang lain. Tak ada teman dan tak ada keluarga yang menemani pergulatan itu. Tak ada nasionalisme, tak ada loyalitas perhimpunan maupun sivitas akademika. Tak ada benci maupun cinta. Kita terlepas dari semua ikatan dan emosi. Hanya sepi yang mengawang di sekitar, seolah hanya kita sendiri manusia di alam ini.

Seorang wanita Inggris, Gertrude Ederle, suatu ketika mencoba menyeberangi selat Inggris dengan berenang. Ia mengalami kelelahan puncak, kesakitan tak tertahankan, beberapa bagian tubuhnya kram dan beku. Pelatih dan keluarganya menangis memohon ia menghentikan usahanya. Namun ia tak menghiraukan semuanya dan setelah puluhan jam berenang ia berhasil melewati selat itu dan tercatat dalam sejarah. Ketika ditanya mengapa ia tak menyerah, Ederle menjawab’” Menyerah? Untuk apa?”.

Setiap olahragawan berpeluang mengalami saat kritis itu. Sebuah keletihan luar biasa yang telah diluar kemampuan fisik normal. Dalam hitungan logis saat itu tubuh sudah melewati batas kemampuannya dalam menerima tekanan fisik. Namun dunia olahraga memiliki keajaibannya sendiri. Di saat itulah dengan kemauan yang kuat sebuah bara yang entah dari mana mulai memercik, lalu membakar seperti api yang berkobar.

Daya dan motivasi yang ada di dalam jiwa jauh lebih kuat dari kekuatan alam apapun. Ketika keinginan untuk tak kalah itu semakin membaja, setapak demi setapak kita pun memperjuangkannya. Berjuang untuk diri sendiri. Hidup terlalu berharga untuk tak dipertahankan hingga nafas terakhir.

Itulah moment of truth yang tak akan pernah dilupakan seumur hidup. Lebih merupakan sebuah pengalaman batin dibanding pergulatan fisik. Dalam kesulitan seberat apapun, bila mengingat lagi saat-saat itu mereka akan selalu bangkit kembali. Dan tak terkalahkan.